INI JUGA DIANGGAP SELESAI SAJA ..... LANJUT
just logo
POSTING QUOTES ( Flash Back ):dari :
2014 = awal
Seperti berkendara, jika kemampuan kendaraan kita biasa saja, maka kita sendirilah yang seharusnya perlu meningkatkan kecakapan (keahlian dan kepekaan) kita sebagai pengendara untuk mengatasinya. Hardware bisa canggih, Software boleh mutakhir namun Manware
seharusnya juga mampu secara bijak dan lihai memberdayakan setiap sarana yang
tersedia (termasuk computer, laptop, netbook, dlsb). Kehidupan ini mengajarkan
saya banyak hal (dan saya yakin akan tetap selalu demikian adanya) tentang ini.
Saya hanya guru desa biasa yang tidak memiliki bekal memadai lewat
kuliah/kursus informatika dan oleh karenanya, sering menemui banyak
permasalahan berkaitan dengan permasalahan ini. Sehingga adalah sangat perlu bagi
saya dengan kerendahan hati dan kesungguhan diri untuk terus belajar melalui
siapapun dan dari apapun juga untuk bukan hanya mencari solusi tehnis terhadap
permasalahan yang saya hadapi untuk segera diatasi namun juga untuk mengembangkan
strategi taktis memberdayakan diri dalam segala keterbatasan yang saya miliki.
Media internet terutama para blogger yang sangat bergairah men-share ilmu, info
dan data file mereka sangat membantu proses ini. Untuk itu saya berterima kasih
dan sebagai rasa syukur saya juga berusaha untuk mengimbangi dengan membalas
budi dengan men-share kebajikan yang sama juga di sini pada saat ini. Melalui
Blog Internet, kita akan saling berbagi untuk saling asah, asih dan asuh
memberdaya diri selamanya.
Sekedar flashback pengenalan diri saya akan bercerita dulu. Sebelumnya
saya memiliki laptop (cukup hebat menurut ukuran saya dari segi fisik dan harga
tentu saja). Namun dikarenakan ketidak-ahlian dan ketiada-bijakan saya laptop
tersebut rusak hanya dalam waktu 1.5 tahun (IC VGA Mainboard terbakar).
Kinerjanya yang full bahkan over (20 jam sehari semalam) untuk mengerjakan
tugas sekolah,social kemasyarakatan. kedinasan, sanggar MGMP dan juga kuliah
Paska ditambah dengan kegaptekan dan kecerobohan saya dalam merawat dan meruwat
laptop tersebut tampaknya jadi alasan utama bagi Tuhan untuk memberikan hikmah
pelajaran dalam sekolah keabadian yang bernama kehidupan ini. Kehidupan adalah
sekolah actual kita semua yang agak berbeda dengan sekolah formal biasanya.
Jika di sekolah formal kita biasanya diberikan pelajaran kemudian setelah itu
baru diujikan pengetahuan tersebut maka di sekolah kehidupan ini agak terbalik
kita diberikan ujian dulu yang namanya permasalahan untuk kita alami sebagai
pengalaman untuk kemudian setelah kita amati dan terima secara bajik dan bijak
untuk kemudian kita atasi sesuai dengan kehendakNya. Semoga keberkahan atas
niat pembelajaran ini bisa diterima dan usaha pemberdayaan ini bisa dicapai dan
kesuksesan juga mengikuti. Saat ini saya hanya memiliki satu netbook (kreditan namun
Insya Allooh sudah akan lunas) yang coba saya rawat dan ruwat dengan formula
baru yang saya terima dariNya lewat apapun juga dan siapun saja (termasuk
internet).
Prolog
Amor Dei – Amor Fati. Dua istilah tersebut sering dipertentangkan secara naïf dan liar oleh para konseptualist religius dan juga pemuja hedonis. Amor Dei (cinta Tuhan) berasal filsuf kearifan theosofi dari Baruch Spinoza sedangkan Amor Fati (cinta garis) berasal dari kenaifan filsuf eksistensialis Friedrich Nietzhe. Namun demikian kehidupan yang digelarNya sesungguhnya tidaklah selalu suram antara hitam dan putih. Hidup bagaikan pelangi yang kaya warna yang membiaskan aneka ragam paradigma kebenaran yang tersirat dari kenyataan yang tersurat. Kesejatian yang merefleksikan keaslian dan juga kesemuan, kebenaran dan juga kepalsuan tergantung dengan cara bagaimana kita memandangnya.
Disadari atau tidak sesungguhnya kita semua adalah para Truth Seeker (pencari kebenaran) dan Dharma Sekha (penempuh keabadian) yang belajar dari Tuhan - Satya Guru Abadi- melalui siapapun juga dan apapun saja dalam perjalanan kehidupan ini. Permasalahannya adalah seberapa baik kita mampu untuk senantiasa memahami kenyataan, menghayati kebenaran dan menjalani ketaqwaan pada garis cintaNya. Kehidupan dunia sesaat mungkin saja hanya memandang apa yang kita miliki dan nikmati namun demikian progress keabadian akherat sesungguhnya mengutamakan bagaimana cara kita mensikapi dan tindakan apa yang perlu untuk menjalaninya. Keberkahan in process yang diupayakan lebih utama dari sekedar by product kesuksesan yang didapatkan. Tuhan adalah Dzat Mutlak yang imanensi keluhuranNya melingkupi segala sesuatu walaupun memang transendensi kekudusanNya tak akan mampu terjangkau siapapun juga. Dunia dan akherat hanyalah terminology peristilahan bagi Fenomena dimensi yang terpilah bukanlah Realitas esensi yang terpisah. Pada hakekatnya (baik disini maupun disana - baik sekarang ataupun nanti) kita senantiasa berhadapan denganNya. Segalanya berproses, berlanjut dan juga berdampak pada saatnya.
Monolog
Ad.1. MOEZ MASSOUD = TRUE
MESSAGE OF ISLAM
"The True Message of Islam"
(Pesan
Sejati Islam)
I would like to start by …. saying something that I came to stand right next to you to make you cut the interest short (?) because I wanted to speak from my heart and not through any particular position that … this temporary world may have given me. I’m also being very challenged right now although I am a public speaker because I want to say meaning that…. is very sincere. I think sincerity is something that is very difficult and very rare commodity nowadays .. and I’m speaking for myself.Saya akan memulai untuk …. mengatakan sesuatu sehingga saya datang mendekat kepada anda untuk menyela/menengahi pembicaraan menarik anda sekalian … karena saya ingin berbicara dari hati saya sendiri dan tidak melalui segala jabatan khusus yang …. dunia fana/sementara ini mungkin saja sudah berikan kepada saya. Saya juga sangat tertantang saat ini ~ walaupun saya adalah pembicara public ~ karena saya akan mengatakan suatu pengertian yang … sangat tulus. Saya fikir ketulusan adalah sesuatu yang sangat sulit/rumit dan merupakan hal (komoditas) yang sangat langka saat ini .. dan saya berbicara untuk diri saya sendiri.I think that the very word ‘personality’ finding its root in the Latin word ‘persona’ means ‘mask’ …and I just don’t want to have a mask as I speak. and I’m hoping before we all leave ~ as I am sure all of us have already done we’ve shared our mask and trully looked at each other’s faces trying to genuinely understand what each of us on the other side truly represent.Saya fikir inti kata ‘personalitas’ (kepribadian) ditemukan berdasarkan akar dalam kata Latin ‘persona’ yang berarti ‘topeng’… dan saya tidak ingin memiliki sebuah topeng sebagaimana saya bicarakan. Dan juga saya berharap sebelum kita pergi meninggalkan (tempat ini) … sebagaimana saya yakin kita semua sudah lakukan dengan saling berbagi topeng kita masing-masing dan kemudian sungguh-sungguh saling melihat wajah-wajah tersebut dan mencoba secara murni memahami apa yang masing-masing dari kita pada sisi yang lain sebenarnya wakilkan/ ungkapkan.I would like to read a verse from the qur’an in personal pursuit of inspiration for what it is I would like to say in following maybe two or three minutes if you allow me too. Those who believe in Qur’an are going to listen to it seeing what Allaah the creator is saying to them. But those who don’t don’t be abandoned. I’m not patronizing you. Just listen to it as to worship for me to listen in Him.Saya akan membacakan sebuah ayat dari Qur’an dalam cita inspiratif pribadi sebagaimana adanya yang akan saya katakan mungkin dalam dua atau tiga menit mendatang jika anda memperbolehkan saya. Bagi yang meng-imani Qur’an (semoga) akan mendengarkannya dengan memandang Allooh Hyang Pencipta sesungguhnyalah yang berkata kepada mereka. Tetapi bagi yang tidak (mengimani), janganlah meninggalkannya. Saya tidak akan merendahkan anda. Dengarkan saja ini sebagaimana ini merupakan bentuk pemujaan bagi saya untuk mendengarkan firmanNya.
(QS Al Hujuroot : 13 ) Audzubillaahi minasy syaithoni rojiim. Bismillaahir rohmanir rohiim Yaa ayyuhan naasu, inna kholaqnaakum min dzakarin wa untsa ; (wa ja’alnaakum ….) wa ja’alnaakum syu’uuban wa qobaila ~ li ta’aarofuu. Inna akromakum ‘indalloohil atqookum. Innallooha ‘aliimun khobiir(un). Shodaqolloohu Robbik(a). O Mankind, We have created you from a male and female. And We made you peoples and tribes that you may know one another. Surely the most honourable of you with God is the most God conscious. God knows everything and is All aware. Aku berlindung kepada Allaah dari syetan yang terkutuk. Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang paling mulia di antaramu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara mu Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Maha benar Allooh – Tuhan(mu).A quick translation of this would … allow me to say crude because it is very difficult to try and interprete for you (to) believe (that it) is ultimate truth … in another language: O People, O humanity, O mankind. We … and this is the Royal we have power ; it’s not plurality. We-God- … We have created you from a pair from male and female, and we made you into people and tribes that you may know one another …. that you may know one another.Terjemahan cepat/singkat dari (ayat) ini .. izinkan saya menyatakannya secara kasar karena adalah sangat sulit untuk mencoba dan menafsirkannya bagi anda untuk mempercayainya sebagai kebenaran utama …. dalam bahasa lain : Wahai manusia, Kami .. ini adalah istilah keMuliaan dari kekuatan yang kita miliki bukan suatu bentuk penjamakan. Kami – (yaitu) Tuhan. Kami telah menciptakan kalian dari suatu pasangan laki-laki dan perempuan dan kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal …. supaya kamu saling kenal mengenal.I think that I would like to leave it off saying that to me in this context Allah, God is if I am allowed to say synomyous in this context with truth, beauty, justice,and a sovereign good. and I think that everybody here in one way or the other believes … and I’ve met pretty much everyone here … that everybody here believes that there is something true. You wouldn’t be here if you believed that nothing can be true. and there is something beautiful one way or the other again. and there is something good because everybody has good in them, and that there is justice. But the only difference between us is how we define respectively justice, truth, beauty and good. So let me just tell you that Wallaahi by Allah I swear to you that all is semantic.Saya berpikir bahwa saya sebaiknya menyatakan … bagi saya dalam kontek wacana ini … bahwa Allooh – Tuhan – jika saya diizinkan untuk mengatakannya sepadan dalam konteks ini dengan kebenaran, keindahan , keadilan, dan kebajikan Utama. Dan saya berpikir bahwa semua orang di sini dengan satu cara atau lainnya percaya … dan saya telah bertemu baik dengan banyak orang di sini … bahwa semua orang di sini percaya bahwa ada sesuatu benar. Anda tidak akan di sini jika anda mempercayai bahwa tiada yang mungkin benar. Dan ada sesuatu yang indah dalam satu cara atau lainnya lagi. Dan ada sesuatu yang baik karena setiap orang memiliki kebaikan dalam mereka. Dan ada keadilan (juga). Tetapi satu-satunya perbedaan diantara kita sesungguhnya hanyalah bagaimana kita mengartikan secara berurutan istilah keadilan, kebenaran, keindahan dan kebaikan. Dengan demikian ijinkan saya untuk menyatakan kepada anda semua … Walloohi, Demi Allooh,…. Saya bersumpah kepada anda semua bahwa itu hanyalah peristilah semantic belaka .And who sit down enough and talk we will understand one another. Ultimately everyone will see what is destined for him or her to see. But what ever it is not only will we see through the veils but we will also love one another as has happened and based on that give each other the respect that we have agreed to give each other not because anybody forced anybody but because we love each other and have become friends. Because ta’arofna and because we have gotten to know one another.Dan bagi siapa saja yang cukup duduk dan berbicara kita (tentu) akan memahaminya satu sama lain. Pada hakekatnya setiap orang akan melihat apa yang digariskan untuknya untuk dilihat. Tetapi apapun juga kita tidak hanya akan melihat melalui cadar (secara tersamar) tetapi juga kita akan juga mencintai satu sama lain sebagaimana yang telah terjadi dan berdasarkan itu memberikan satu sama lain penghargaan bahwa kita sudah menyetujui untuk memberikan satu sama lain tidak karena sesorang memaksakan seseorang tetapi karena kita mencintai satu sama lain dan sudah menjadikannya sebagai kawan/sahabat. Karena ta’arofna (Kami telah saling mengenalkannya) dan karena Kami sudah membawanya untuk mengetahui/mengenal satu sama lain.I think that Al – Sheik Bouti said : Rubadaratil nafiha (?). That perhaps a harmful thing can bring up benefit. I think that a lot of benefit that has come out of this and I am very happy to live in this world in this time to experience this amazing human possibility of taaruf of knowing on another and recognizing the common ground between us we all have a common denominator are numerous different. That’s all. if I can use a mathematical example.Saya berfikir bahwa sebagaimana Al Sheik Bouti katakan : ‘rubadarotil nafiha’. Bahwa mungkin saja hal yang menyakitkan akan dapat menghadirkan suatu manfaat. Saya fikir banyak manfaat yang dapat didatangkan dari ini dan saya sangat bahagia untuk hidup di dunia ini pada saat ini untuk mengalami kemungkinan insaniah yang menakjubkan dari ta’aruf (saling mengenal) ini dan mengakui/bersaksi dasar umum di antara kita semua yang mana kita semua memiliki penyebut umum yang (tampak) berbeda ragamnya. Demikianlah. Jika saja saya dapat menggunakan contoh (peristilahan) matematis.May we all in hope ~ for those who are religious I say a prayer and for those who are not let just say we hope ~ … we look forward to understanding more deeply what truth is in whatever way we believe it to be living a life of beauty, living a life of truth, living a life of justice, living a life of good, and therefore living a life of harmony and therefore having serenity in our heart not living in agitation. May none of us ever be a source of agitation for one another ever again.Semoga kita semua berharap ~ untuk mereka yang beragama saya katakan sebagai berdoa dan bagi yang tidak izinkan saya mengatakan sebagai kita berharap (saja) ~ … Kita mengharapkan untuk memahami lebih dalam lagi apakah kebenaran tersebut dalam apapun cara yang kita percayai untuk (senantiasa) hidup dalam kehidupan yang indah, hidup dalam kehidupan yang benar, hidup dalam kehidupan yang baik, dan oleh karena itu hidup dalam kehidupan yang harmoni/selaras, dan oleh karenanya (kita selayaknya) memiliki ketulusan dalam jantung hati nurani kita untuk tidak hidup dalam permusuhan. Semoga tak seorangpun dari kita yang akan pernah menjadi sumber permusuhan bagi sesamanya satu sama lain lagi selamanya.I thank you very much for listening and I apologize for talking too longSaya ucapkan terima kasih banyak kepada anda untuk mendengarkan dan saya minta maaf dikarenakan (saya) berbicara terlalu lama.
Dengan segala hormat, mohon anda fahami apa
yang dikatakannya baik yang tersurat maupun tersirat (dan tentu saja pada
terjemahan saya juga yang mungkin agak ‘kacau’). Pemahaman kontak lisan yang
sering spontan agak berbeda dengan wacana tulis yang terencana, terarah dan
teratur . Perlu kepekaaan daya tanggap untuk memahami keseluruhan pembicaraan
(yang tidak selalu lengkap terungkap) disamping keahlian daya tangkap atas apa
yang (sanggup) disampaikan. Terlebih lagi perlu disadari bahwa suatu kebenaran
absolute sesungguhnya bersifat translingual (melampui kapasitas kebahasaan
kita), transrasional (melampaui rengkuhan penalaran kita) dan transcendental
(melampaui keberadaan fana kita).
Moez Massoud merupakan seorang pembawa
acara pada show TV dan Radio berbahasa
Inggris dan bahasa
Arab. Dia berasal dari keluarga yang biasa saja dalam kehidupan beragama Islam.
Dia masuk sekolah Amerika selagi tumbuh berkembang dewasa di Mesir dan Kuwait. Selagi dia di Universitas, sejumlah
rekannya meninggal (terbunuh?) sementara diapun sekarat karena menderita tumor.
Berkaitan dengan penyakit yang dideritanya tersebut, dia bernazar kepada Tuhan
: "Let me survive this and I will dedicate my life to you." (Biarkan
aku bertahan hidup dan aku akan persembahkan kehidupan ini untukMu.”) Peristiwa
tersebut kemudian mengubah kehidupan manjanya.
Dia kemudian mulai belajar bahasa Arab resmi dan Qur’an serta juga rajin
beribadah ke masjid yang semula dikhawatirkan ibunya bahwa dia akan terpengaruh
oleh kelompok extremis. Hal yang kemudian hari ternyata tidak demikian adanya
walaupun dia memang sangat aktif menyebarkan nilai Islami kepada public
sebagaimana yang dijanjikan kepadaNya.
Berdasarkan cara pandang yang diungkapkannya
pada program acara atau wawancara, Moez Massoud tampak mendekati Islam dengan
cara yang utuh namun unik. Tidak sekedar pemahaman konseptual intelek
sebagaimana taqlid liberal para fundamentalis umumnya, namun juga melalui
penghayatan kontekstual intuitif pada hakekat nilai Islami yang sesungguhnya
(Apakah mungkin juga melalui penembusan spiritual insight dikarenakan
pengalaman mendekati kematiannya ? …. Walloohu ‘alam). Terasa nuansa realisasi
autentik ke-Esaan yang terpantul arif dari kedalaman tidak sekedar identifikasi
artificial pencitraan yang naïf di permukaan.
Dalam usia yang relative muda,
dia mampu menghayati inti kebenaran (nyaris?) tanpa noda kefasikan yang bisa
dan biasa memperdaya para pemberdaya awal setiap pencari kebenaran. Agama sebagaimana
metoda Dharma yang lain adalah formulasi untuk realisasi diri bukan sekedar
untuk identifikasi semu. Diperlukan kesadaran tinggi dan ketulusan mendalam
untuk merengkuh hidayah Ilahiah dan tetap beristiqomah dalam GarisNya.
Kepicikan apalagi kelicikan adalah penghalang, penghambat sekaligus penyesat
utama untuk itu. Moez Massoud antara lain menyatakan
bahwa melaksanakan ritual Islami hendaklah dilakukan bukan sebagai beban
kewajiban yang diharuskan sehingga hanya dijalankan dengan terpaksa sekedar
gugur kewajiban atau sebagai kepatutan belaka. Ritual eksternal tersebut adalah
refleksi suatu keinginan, kesadaran, ketulusan dan bahkan kerinduan internal untuk
mengingat Allooh (Remember Me – inward) di kedalaman yang berdampak pada
penegakan ibadah di permukaan (Establish Prayer – outward). Kearifan dan kecintaan
kepada Tuhan (ma’rifatullah dan mahabatullaah) sebagai dasar murni dari segala peribadahan. Dia juga menekankan perlunya pilar
agama ke tiga, Ihsan (kemurnian hati) disamping Iman dan Islam. Ihsan adalah
kesadaran diri senantiasa berhadapan dengan Tuhan di setiap saat di segala
tempat (baik kini maupun nanti, baik disini maupun disana). Suatu upaya
pendekatan akhlaqiyah diri secara pribadi dan sejati kepada Tuhan disamping
akidah keimanan dan fiqih keislaman. Ihsan sering disisihkan bahkan diabaikan
dalam kehidupan beragama pada umumnya. (Mungkin ini sebabnya yang membuat umat
beragama walau mungkin bisa terbebas dari konsepsi kekafiran namun tetap bisa
saja fasik dalam refleksi kehidupannya). Nilai spiritualitas actual dan global
yang intens di kedalaman perlu diperhatikan tidak sekedar ritual formal saja di
permukaan. Bukan sekedar pemahaman ilmu tetapi juga tindakan laku mutlak
diutamakan sebagai kebenaran realisasi dan bukan sebagai identifikasi
pembenaran.
Ad.2. JEFF GUTT = THE PHOENIX WARRIOR
(original link ?)
JAG PLAYLIST :
Every time I look in the mirror
Setiap kali aku melihat di cermin
All these lines on my face getting clearer
Semua garis-garis ini di wajahku semakin jelas
The past is gone
Masa lalu hilang
It went by, like dusk to dawn
Itu pergi berlalu, seperti senja hingga fajar
Isn't that the way
Bukankah itu jalannya
Everybody's got their dues in life to pay
Semua orang punya iuran mereka dalam hidup untuk dibayar.
Yeah, I know nobody knows
Ya, aku tahu tidak ada yang tahu
Where it comes and where it goes
Di mana ia datang dan di mana ia pergi
I know it's everybody's sin
Aku tahu itu dosa semua orang
You got to lose to know how to win
Kau kalah untuk tahu bagaimana untuk menang
Half my life's
Setengah hidupku
In books' written pages
Dalam halaman buku ditulis
Lived and learned from fools and
Tinggal dan belajar dari orang-orang bodoh dan
From sages
dari yang bijak
You know it's true
Kau tahu ini benar
All the things come back to you
Semua hal datang kembali kepadamu
Sing with me, sing for the year
Bernyanyi denganku, menyanyi untuk tahun ini
Sing for the laughter, sing for the tear
Menyanyi untuk tawa, bernyanyi untuk air mata
Sing with me just for today
Nyanyikan denganku hanya untuk hari ini
Maybe tomorrow, the good lord will take you away
Mungkin besok, Tuhan yang baik akan membawamu pergi
Yeah, sing with me, sing for the year
Ya, bernyanyi denganku, menyanyi untuk tahun
Sing for the laughter, sing for the tear
Menyanyi untuk tawa, bernyanyi untuk air mata
Sing with me, just for today
Bernyanyi denganku, hanya untuk hari ini
Maybe tomorrow, the good Lord will take you away
Mungkin besok, kebaikan Tuhan akan membawamu pergi
Dream On Dream On Dream On
Bermimpilah
Dream until your dream comes true
Bermimpi sampai mimpimu terwujud
Dream On Dream On Dream On
Bermimpilah
Dream until your dream comes through
Bermimpi sampai mimpimu datang melalui
Dream On Dream On Dream On
Dream On Dream On
Dream On Dream On, AHHHHHHH
Mimpikanlah, Ahhhh
Sing with me, sing for the year
Bernyanyi denganku, menyanyi untuk tahun
Sing for the laughter, sing for the tear
Menyanyi untuk tawa, bernyanyi untuk air mata
Jeff Gutt (Jeffrey Adam Gutt) mungkin nama yang asing bagi rekan pembaca di Indonesia. Sekedar info singkat, dia adalah salah satu peserta X factor USA tahun 2013. Memang dia ‘hanya’ mencapai runner-up berdasarkan voting pilihan mayoritas suara dalam kontes sehingga gagal meraih hadiah rekaman 1 milyar. Satu pertanyaan mungkin terlintas di benak anda: lantas apa istimewanya figure ini diekspose jika ia bukan juara pertama (walau juara ke-dua toh tetap pecundang) ?
Disadari atau tidak, pada
dasarnya kita semua belajar dari Tuhan lewat apapun juga ,melalui siapapun
saja. Setiap makhluk adalah truth seeker (pencari kebenaran) dan sekaligus
Dharma Sekha (penempuh kenyataan) dalam hidup ini. Senantiasa ada hikmah
ilahiah (yang sejati sebagai ilmu dan laku) dibalik hibrah alamiah (yang tampak
samar bahkan terkadang semu) akan maksud kebijaksanaan Tuhan yang mungkin kita
terima namun tidak kita mengerti. Tidak semua yang kita inginkan terwujud dalam
kenyataan. Apa yang baik bagi kita belum tentu baik bagi Tuhan ; demikian
sebaliknya. Hidup adalah amanah bukan sekedar anugerah apalagi musibah.
Tampaknya memang ada perbedaan mendasar bagaimana dunia ini memandang dengan
cara Tuhan menilai. Kita dinilai bukan sekedar dari kesuksesan yang kita terima
dan miliki di permukaan, namun dari keberkahan dari cara kita men-sikapi
kenyataan dan cara kita menjalani kehidupan di kedalaman. Coram Deo (Hidup yang
selalu sejati dalam pandangan Tuhan) tidak sekedar coram geo (hidup yang
mungkin semu dalam kelaziman duniawi) apalagi coram ego (hidup yang bisa liar
dalam kenaifan diri). Dengan cara demikian kita senantiasa bisa memilah dan
memilih hikmah kebenaran tidak sekedar hibrah kenyataan apalagi hijab kesemuan
yang mungkin akan menyesatkan pandangan kita sebagai pengembara keabadian.
Melalui sebuah titik
perjalanan garis keabadian ini (pengalaman pribadi sendiri, kejadian orang lain,
dan aneka peristiwa) kita mengkaji kebenaran yang tersirat pada kenyataan yang
tersurat pada hidup ini sebagai introspeksi dari masa lalu, untuk realisasi
pada waktu ini dan sebagai orientasi bagi saat nanti untuk tetap selalu
memberdaya diri (kesadaran, kecakapan, kemapanan dan ketaqwaan). Jeff adalah
figure sederhana ke-dua yang saya ajukan, sesudah Moez Massoud dan sebelum
Jokowi nanti.
Ad.3. JOKOWI
(broken link now ?)
Ganti sama intinya : Simple/Nature
Wisdom Quotes of Sutarti's : ts; 5,10
https://www.youtube.com/watch?v=z43Iv_-JrcY&list=PLAd190ufXD9_b77Ng7kuoiWFS4q9pEfCd&index=11&t=5m24s
Tanya :
Bu Sutarti, apa yang ingin disampaikan …. Atau Gimana
… baiknya pak Jokowi… gimana,sih ?
Jawab :
Ini jujur, ya
? (tawa semua).
Nggak maksudnya gini … kalau orang .. apa namanya…
didorong-dorong cepet jadi gini jadi gini …
itu kan yang ngomong gampang. Yang
melakukannya kan juga nggak mudah.
Bagi kita .. yang deket ya … kita cuma berdoa
.
kalau itu memang KEHENDAK TUHAN dia ini harus jadi presiden … ya, BIARIN AJA.
(Dikapitalkan hurufnya .... supaya tidak ada misunderstanding .... kadruners vs cebongers? )
Almarhum Romo Mangun (YB Mangunwijaya) pernah
menyatakan bangsa ini perlu transformasi tidak sekedar reformasi. Karena,
sebagaimana Burung yang perlu dua sayap untuk terbang dan Manusia yang perlu
dua kaki untuk melangkah; demikian juga bagi bangsa ini yang memerlukan
Transformasi dan Transparansi untuk menjalani dan mengatasi kehidupannya.
Transformasi adalah pemberdayaan keseluruhan diri,suatu proses metamorfosis
perbaikan dan peningkatan kualitas diri. Dia bukanlah sekedar reformasi,suksesi
pergantian di luar namun tanpa perbaikan di dalam.(Sehingga: Walau bentuk
system permukaan tampaknya berubah, namun kultur kedalaman agaknya sama saja.
Tokoh berganti tetapi tetap tanpa fungsi.) Tampaknya memang Perlu Transformasi
pemberdayaan yang sejati bukan hanya untuk kebaikan tetapi juga kemajuan negeri
ini. Perlu Transparansi keterbukaan yang sejati bukan hanya untuk kepercayaan
tetapi juga untuk keteladanan di negeri ini. Agar dengan demikian Transendensi
keberkahan Robbani akan segera terjadi dan kesuksesan duniawi juga Insya Allooh
akan mengikuti.
Namun demikian kita para anak bangsa agaknya
terlalu naïf untuk memahami hal ini dan (bagaikan lingkaran setan ~ siklus
Polybius) sangat sering mengulangi kesalahan sejarah yang sama. Ketika
absolutisme demi stabilitas menampakkan dibiarkan maka tampak jelas sisi
keburukan kezaliman yang membuat kita muak dan beralih kepada kebebasan. Ketika liberalisme demi stabilitas
kebablasan dan menampakkan sisi keburukan keliaran ; kita kembali muak dan
beralih ke kemapanan. Demikian seterusnya terjadi di dunia ini. Manusia memang
berpotensi baik (arif & asih) namun cenderung buruk (naïf & liar).
Mandala kebersamaan manusiawi yang tidak berlandaskan tiga pilar transformasi,
transparansi dan transendensi tampaknya memang telah digariskan oleh-Nya untuk
tidak akan menerima keberkahan abadi. Rhetorika visi program walau terkemas
(sangat) sempurna namun tanpa realisasi aksi tindakan yang terwujud (walau)
sederhana akan percuma. Istighotsah permohonan tetap mutlak memerlukan
istiqomah pelayakan agar tidak menjadi sia-sia. Bangsa ini walaupun memang
secara alamiah telah terus beranjak tua namun kelihatannya tak akan pernah
menjadi dewasa.
Harapan akan mitos Satrio Piningit, Noto
nagoro, dan Ratu Adil semula diekspose dan diotak-atik dan dipolitisir pada
waktu itu. Wah .. tidakkah kita sadari bahwa tokoh tersebut adalah seluruh
putra bangsa. Karena bangsa ini hanya akan bangkit untuk menjadi baik dan maju
jika semua putra bangsa (tidak hanya satu satrio atau ratu adil saja) terjaga
untuk memberdayakan diri dan bangsanya.
Epilog
Membicarakan kebaikan (bukan mengidolakan) orang lain sebelum tiba saatnya dia berada dalam situasi dan kondisi negatif dalam kehidupannya (tidak sekedar pada situasi kondisi positif belaka) bahkan hingga menjelang akhir kematiannya sebetulnya beresiko juga. Karena manusia walaupun berpotensi baik namun juga cenderung buruk. Bisa saja yang kita puja sekarang akan kita cela pada masa mendatang karena kekhilafan (keburukan dan kesalahan yang bersifat pribadi bukan semata kemalangan atau kegagalan yang bersifat kompleks) selalu saja akan bisa terjadi. Nobody but God is perfect.
Namun demikian, sebagai seeker pembelajar kehidupan kita memang harus selalu membiasakan memandang sesuatu secara berimbang dan tidak berlebihan (Istilah orang jawa = 'ora gampang ngentahke /ora langsung mandheke' = tidak mudah mencela, tidak segera memuja ~ seperti kezaliman kaprah yang menjadi kelaziman lumrah saat ini). Setiap pribadi yang berperan dan segala peristiwa yang berlangsung adalah ayat media pembelajaran dari Tuhan untuk memberdaya kita sebagai pengembara keabadian yang melintasi kehidupan dunia ini sesuai dengan amanahNya. Diberkahilah bumi kebersamaan ini atas kehadiran mereka (yang baik tersirat atau tersurat , langsung ataupun tidak) yang memuliakan Dharma Tuhan melalui persepsi dan refleksi kehidupannya pada lintasan garis samsara perjalanan keabadiannya yang senantiasa berhadapan dalam pembelajaran dan pemberdayaan Tuhan di sini ataupun di sana , saat ini ataupun nanti).
Prolog
Kita
belajar segala sesuatu dari Tuhan melalui siapa saja dan apapun juga, termasuk
internet. Kini adalah saatnya, dan disini adalah tempatnya bagi kita untuk
saling berbagi. Tidak hanya sekedar menerima namun juga untuk saling
memberi demi pemberdayaan bersama dalam Wujud, Kuasa, dan Kasih-Nya. .Sejumlah
orang, blog, websites melalui media Internet telah banyak membantu kita dalam
pencarian dan perolehan data yang kita perlukan. Ini saat dan tempat kita untuk
saling asah, asih dan asuh dengan saling berbagi (reload data penting) dan
‘membalas budi’ (upload karya pribadi) bagi kemanfaaatan pemberdayaan pengguna
internet lainnya.
Monolog
Pilpres 2014 ini ternyata cukup mengesankan bagi sebagian besar warga bangsa Indonesia lainnya karena baru kali ini tampaknya benar-benar bisa ‘buat rame’ berpartisipasi aktif tanpa perlu mobilisasi eksternal dari siapapun saja atau apapun juga. Ini bahkan terasa melebihi Pemilu 1998 pada awal reformasi dulu (ada kegairahan yang lebih besar ketimbang sekedar pengharapan belaka). Mau tidak mau akhirnya blog ini walau tidak dimaksudkan bersifat politik (secara pribadi saya memang kurang interest dengan masalah politik dan manuvernya dikarenakan saya sesungguhnya hanya tertarik dengan pencerahan kesadaran gnosis keabadian dan kecakapan wajar dharma pembumi saja) namun demikian karena ini juga berkaitan dengan totalitas perjalanan hidup pada garisNya, tanpa maksud provokatif terpaksa ikut-ikutan bikin rame juga,ah. Semoga jika walau tidak bisa membantu namun tetap tidak mengganggu. Semoga ini (keterlibatan tanpa kemelekatan sehingga tetap ada keberimbangan walau dalam keberfihakan) tidak membebani atsar kehidupan nanti. Saya akan berusaha adil dan arif dengan melandaskan pembahasan artikel ini pada sejumlah hadits arbain Imam Nawawi untuk maksud pemberdayaan dalam bulan suci Ramadhan ini dan semoga bukan untuk memperdayakan. Semoga Tuhan mengarahkannya dalam pencerahan karena saya dengan segala keterbatasan dan pembatasan yang ada (mungkin juga termasuk keberfihakan walau dalam keberimbangan sekalipun) sama sekali tidak berniat untuk melakukan penyesatan.
1. IJTIHADAH
Ijtihad
bukanlah hak para orang yang melabelkan diri dengan nama ulama saja tetapi bagi
setiap hamba Allooh bahkan makhlukNya yang lain dalam membentang pandangannya
untuk menentukan pilihan. Ijtihad (dalam pengertian lughoh ilmiah dan tidak
selalu “syar’i fuqoha”) bukan hanya monopoli kelompok para ulama yang
meng-klaim sesuai hadits sebagai “pewaris Nabi” (harusnya untuk amanah
kebenaran bukan untuk label pembenaran kekuasaan) apalagi jika memiliki maksud
tersirat walau tak terungkap secara picik dan licik dengan mengharamkan
pasangan capres/cawapres tertentu hanya dikarenakan memiliki pandangan yang
berseberangan.
Ditambah lagi sejumlah kampanye hitam yang bukan hanya
menyudutkan namun sudah menjurus pembunuhan karakter yang sadis dan sistematis
dengan ghibah dan fitnah yang sama sekali jauh dari nilai-nilai Islami dari sejumlah
tokoh/ ormas partai berlabel islam. Secara pribadi (yang seharusnya juga tetap
Robbani – untuk kaffah dengan menjalani kebenaran ilmuNya), saya sangat
menyayangkan hal ini. Empati kemanusiaan tentunya akan mengusik nurani kita
semua jika kita jujur mengakuinya. Jokowi (dan juga JK) adalah pribadi yang
tentu saja (sama sebagaimana kebanyakan kita manusia lainnya) bukanlah figure
sempurna (dimana senantiasa ada kelemahan disamping kebaikannya … selalu ada
kekurangan disamping kelebihannya). Namun demikian bukankah mereka adalah
pribadi yang relative lebih baik dari yang ada
sehingga rakyat kemudian membela, meminta dan mendukungnya ketika mereka
kemudian ‘terpaksa/suka-rela’ bersedia
menerima amanah kepemimpinan nasional yang ditawarkan kepada mereka). Track
record mereka sebagai pribadi-pun pada kenyataannya sesungguhnya (jika kita mau
jujur mengakui) tidak seburuk yang kita ingin anggapkan kepada diri kita dan
orang lain ~ asalkan dilakukan tanpa adanya tekanan akan kepentingan atau
desakan untuk kebanggaan diri saja. Pengharapan akan kehidupan berbangsa dan
bernegara yang lebih baik dari rakyat (yang memilih atau tidak memilihnya) juga
tidak bisa disalahkan untuk memberikan kesempatan kepada mereka maju sebagai
kandidat pilpres 2014 ini. Dengan tanpa menafikan kehadiran kandidat lainnya
(yang akhirnya resmi: Prabowo – Hatta) dan juga tiada maksud untuk mengabaikan
keberadaaan tokoh lainnya (yang belum ‘beruntung’ ?), simpati kepribadian, empati
kemanusiaan dan pengharapan perbaikan akhirnyalah yang kami jadikan tiga alasan
utama untuk membelanya untuk kebaikan bersama, menjaganya demi keberkahan
nantinya dan memilihnya untuk memulai keberhasilan perjalanannya.
a. Transformasi Perbaikan
b. Transparansi Keterbukaan
c. Kebijakan Transendensi
2. ISTIQOMAH
Umumnya
untuk kampanye, slogan seperti Indonesia hebat atau Indonesia bangkit tampak
begitu dahsyat .. mewah dan megah terdengar. Namun saya justru lebih terkesan
dengan slogan kepemimpinan nasional Jokowi – JK yang bersih, merakyat dan
sederhana walaupun terdengar bersahaja saja bagi orang lain namun bagi saya itu
adalah terminology yang lebih bernuansa dan mengena ketimbang slogan bombastis
sebelumnya. Dari pengamatan dan pengalaman , saya berasumsi bahwa kesempurnaan
selalu lahir dari rahim kesederhanaan robbaniyah (bukan sekedar untuk membuai
pembanggaan nafsaniyah saja) untuk kemudian secara alamiah hadir, hidup dan
tumbuh berkembang dalam pelayakan keberkahan Ilahiyah (tidak sekedar pembenaran
kepentingan belaka). Singkatnya, keistiqomahan diri dalam mementingkan
kebenaran Ilahi hendaknya diletakkan di singgasana tertinggi daripada sekedar
upaya pembenaran kepentingan belaka agar kemudian kita bisa mensikronisasikan
niat, cara, hasil dan dampak keberkahan di JalanNya (lillaah, billaah,
fiillaah) dan tidak melazimkan kezaliman dan membenarkan kesalahan dalam
mencapai tujuannya (ilaya, ilainaa, ilaihim).
1. Sederhana adalah merakyat (Kesamaan diri di hadapan
Ilahi)
2. Sederhana adalah Jujur (Keihsanan diri di hadapan Ilahi)
3. Sederhana adalah Bersih (Keamanahan diri di hadapan
Ilahi)
3.
ISTIRJA’AH / ISTI’ANAH
Hidup
bagaikan pelangi yang kaya warna yang membiaskan aneka ragam paradigm Realitas
kebenaran yang tersirat pada fenomena
kenyataan yang tersurat. Fenomena tersebut merefleksikan keaslian dan juga
kesemuan, kebenaran dan juga kepalsuan tergantung dengan kebenaran dan
ketepatan cara bagaimana kita memandangnya. Disadari atau tidak sesungguhnya
kita semua adalah para Truth Seeker (pencari kebenaran) dan Dharma Sekha
(penempuh keabadian) yang belajar dari Tuhan - Satya Guru Abadi- melalui
siapapun juga dan apapun saja dalam perjalanan kehidupan ini. Permasalahannya
adalah seberapa baik kita mampu untuk senantiasa memahami kenyataan, menghayati
kebenaran dan menjalani ketaqwaan pada garis cintaNya. Tuhan adalah Dzat Mutlak
yang imanensi keluhuranNya melingkupi segala sesuatu walaupun memang
transendensi kekudusanNya tak akan mampu terjangkau siapapun juga. Dunia dan
akherat hanyalah terminology peristilahan bagi Fenomena dimensi yang terpilah
bukanlah Realitas esensi yang terpisah. Pada hakekatnya (baik disini maupun
disana - baik sekarang ataupun nanti) kita senantiasa berhadapan denganNya.
Segalanya berproses, berlanjut dan juga berdampak pada saatnya.
Epilog
Para mantan rekan mistisi mungkin
mencela (namun saya yakin untuk menjaga kemurnian batinnya mereka pastilah
hanya sekedar menyayangkan atau cukuplah memaklumi saja) artikel ini
dikarenakan saya mungkin dianggap terlibat terlalu jauh (tidak sekedar terkait
namun terasa sudah terikat pada hal duniawi … politik lagi … wah, payah kalau
tidak mau dikatakan parah). Namun demikian dengan tanpa maksud membela apalagi
mencela jika kemudian saya menyatakan bahwa hal ini mungkin tetap perlu (walau
tidak harus ?) dilakukan untuk sekedar sumbang saran bagi kebajikan sesama dan
kebijakan bersama sebagai warga bangsa. Walau diam tanpa kemelekatan memang
akan lebih memungkinkan kita untuk dibenarkan dengan tidak melakukan kesalahan
(termasuk juga kebaikan?) namun itu juga bukan suatu keutamaan jika kita
membiarkan avidya kebodohan/pembodohan
terus terjadi tanpa merasa ikut bertanggung jawab dan mencoba untuk
ambil bagian saling asah, asih dan asuh untuk mencerahkannya. Walaupun memang
keterlibatan mungkin cukup jauh namun semoga kemelekatan tidaklah dalam
sehingga upekkha nishkarma – keseimbangan batin dan keikhlasan hati tetap
terjaga. Kehidupan fana ini hanyalah lintasan
garis keabadian dimana segala tindakan kita akan berdampak pada atsar
kesejatian kita berikutnya. Jalani saja permainan keabadian yang disebut
kehidupan ini secara dewasa dan dengan bijaksana. Semua ini hanyalah media
pembelajaran dan pemberdayaan dariNya untuk mengembangkan kearifan kita dalam
menerima kenyataan, keahlian kita untuk mengatasi permasalahan dan kebaikan
kita untuk menghayati kebersamaan. So,…. jika saja artikel ini ternyata memang tidak cukup membantu – semoga
ini tidak akan dipandang sebagai mengganggu adanya. (Lagipula saya juga tidak
suka jika terlalu lancang untuk menggunakan hak bicara secara tidak haq
terlebih setelah baru saja mengalami dan perlu menjalani ishlah perbaikan
kedinasan dan kehidupan).
Walaupun tidak su’u zhon (buruk sangka
karena mudah-mudahan memang tidak demikian seharusnya) – sebagaimana suara
rakyat biasa lainnya – suara ini walau mungkin hanya terkesan sederhana namun
semoga saja kemudian (tidak) akan segera menghilang terabaikan. Ini hanyalah
suara keheningan dari sebagian besar swing voters negeri ini yang berada di
luar kepentingan politik praktis (kandidat, timses dan lingkarannya) untuk
menjaga dan membawa diri dengan tetap
berpartisipasi (tidak golput) dan sekedar kelayakan (kewajaran atau kesadaran
?) menggunakan hak pilih untuk menjalani kehidupan demokrasi di negeri ini
dalam mengaspirasikan harapan rakyat yang sebenarnya sangat sederhana :
-
Berdayakan kami dengan ikhlasnya
keteladanan (namun jika tidak mau) janganlah perdayakan kami dengan kepalsuan
pencitraan belaka.
-
Mudahkan kami dalam penghidupan di
negeri ini (namun jika tidak mau) janganlah persulit kami dengan ketentuan yang
terlalu menyusahkannya.
- Bantulah kami dalam perjalananan
keabadian hidup ini (namun jika tidak mau) janganlah bebani kami tanggung jawab
kesalahan karma kolektif pada akhirnya.
Baiklah, segenap idea tampaknya sudah tersingkap –
seluruh kata tampaknya juga cukup terungkap. Sementara perjalanan kehidupan belum
selesai , penjelajahan keabadianpun belum juga usai. Masih banyak pekerjaan
yang tertunda, begitu banyak kegiatan yang belum dikerjakan. Saya kira tidak
ada lagi yang perlu dikatakan walau masih banyak yang ingin dibicarakan. Adalah
Haq untuk menyatakan seperlunya saja sesuai kehendakNya dari kemungkinan hak
untuk mengatakan semua yang diinginkan belaka. Jika ada kebaikan itu dari Tuhan karena Dialah sumber
dari segala keberadaan, kebenaran dan keindahan yang Haq dimana setiap
makhluknya hanya dapat memantulkan kemuliaanNya hanya sebatas keterbatasannya
(Dimuliakan Tuhan Hyang Maha Sempurna di atas segalanya – sehingga tiada haq
bagi kita untuk sedikitpun berbangga di hadapanNya). Jika ada kesalahan dalam
artikel ini maka ini sepenuhnya kekhilafan saya dalam menafsirkan dan
memantulkan pengertian dari pembelajaran keabadian yang diberikanNya dalam
pemberdayaan kehidupan ini (Dan untuk itu izinkan saya istighfar dan mohon maaf
atas kekurangan ini.)
Ya, Tuhan. Begitu luas dan dalamnya hikmah kebenaran
ilmu-Mu (yang sangat transcendental, transrasional dan translingual – melampaui
fananya keberadaan, terbatasnya penalaran dan jangkauan kebahasaan). Setiap
saat keterbatasan intelek dan intuisi menjelajahi cahaya ilmu-Mu, Kau bukakan
gerbang ilmu lainnya yang lebih luas untuk kembali dijangkau sebagai fakta,
direngkuh dalam idea, dan diungkap dengkap kata. Dan demikian selalu berlanjut (walau
memang harus diakui ada kegairahan jiwa yang ingin dewasa untuk berusaha
menyibaknya dalam kegelisahan hati untuk merengkuhnya dalam mandala global idea
pada keterbatasan akal untuk mengungkapkannya dalam rangkaian linear kata agar
bisa dilaksanakan melalui tindakan nyata.)
(Well, tampaknya sebagaimana karya yang lain, artikel ini
mungkin memang tidak akan pernah tuntas selesai walau deadline sudah habis dan
diperpanjang terus – menerus ….. Jadi, yah, diterima, dimaklumi dan dianggap
selesai saja. Gitu aja koq repot)/ Wasalam.
2020 = awal (galau corona ?)
Sadhguru Yasudev Quotes :
Whatever you have – your skills, your love, your joy, your ingenuity, your ability to do things – please show it now. Do not try to save it for another lifetime.
Apa pun yang Anda miliki - keterampilan Anda, cinta Anda, kegembiraan Anda, kecerdikan Anda, kemampuan Anda untuk melakukan sesuatu - tolong tunjukkan sekarang. Jangan mencoba menyimpannya untuk kehidupan mendatang.
Bekerja
dan belajar di rumah diperpanjang 1 (satu) minggu lagi. Antisipasi social distancing
untuk mengatasi virus corona global di seluruh dunia hingga pelosok daerah
diberlakukan. Hal ini membatasi kontak social dalam drama kosmik kehidupan
sebagai figur multi-peran sebagaimana biasanya. Kecemasan akan terinfeksi
penularan, menjadi sakit dan kemudian berujung kematian merebak di segenap
pelosok negeri. Kehebohan duniawi dalam aneka ragam skenario permainannya yang
biasa dilakukan berubah secara authentik menjadi kepanikan. Memang naif dan
liarnya kelaziman tranyakan (keterpedayaan yang bukan hanya mungkin
memperdayakan sesama namun pastinya akan berdampak kepada diri sendiri sesuasi
konsekuensi logis kaidah kosmik permainan keabadian yang disebut kehidupan ini)
menjadi berkurang namun arif dan baiknya aktualisasi harmonis holistik kebersamaan
dan kesemestaan (keberdayaan untuk senantiasa saling memberdayakan dalam
kebenaran dengan kebijakan untuk kebajikan) juga akan menjadi terhalang. Corona
bisa mengenai siapa saja (tidak perduli seberapa baik/buruk karakter
kepribadiannya, kuat/lemah keimanannya, tulus/licik pengharapannya, dsb).
Banyak korban berjatuhan (tewas terinfeksi, sakit tertular hingga yang
disinyalir sebagai orang dalam pemantauan ODP karena kontak sosial fisik dengan
pasien positif) dan lockdown karantina diberlakukan. Menjadi realistis
terhadap fenomena alamiah tersebut adalah sikap dewasa dalam merespon dan
mengantisipasi faktisitas yang ada secara autentik.Saling terjaga dalam
keswadikaan dan saling menjaga demi kebersamaan adalah sikap bijak dalam
mengamati, mengalami dan mengatasi segala problematika kehidupan dan dilematika
keabadian apapun juga ... Semoga kita semua mampu bertahan dalam menghadapi
permasalahan ini dan mampu melampauinya dengan segala kebijaksanaan dalam
keberdayaan dan demi pemberdayaan berikutnya.
Senantiasa ada hikmah
kebenaran dari setiap kenyataan yang terjadi. Ini kami ungkapkan dengan tanpa
niatan sedikitpun sebagai refleksi sikap apatis (tidak tanggap atas suasana
actual dan nuansa mental yang ada) apalagi memperkeruh dan memanfaatkan keadaan
demi kepentingan eksistensial diri. Seorang mistisi modern Vernon Howard ada
menyatakan penderitaan adalah cara alam untuk menyadarkan kepada kita untuk
kembali hidup sejati sebagaimana amanah keberadaan ini harusnya. Penderitaan
yang dirasakan cukup ekstrem terkadang bisa menjadi shock theraphy yang lebih
meningkatkan attensi perhatian kita yang cenderung kurang begitu responsive
terlenakan keberadaan diri yang relative tampak biasa saja (kemampuan bertahan
atas kesengsaraan yang wajar walaupun terkadang dengan keterpaksaan untuk
ikhlash menerima).Ada yang kurang tepat dari diri kita dalam mensikapi dan
bereaksi sebelumnya (mengumbar keinginan untuk memperoleh kebahagiaan dan
meradang kekesalan kala belum merasa cukup/layak dalam mendapatkan) sehingga
cara kita menjalani kehidupan ini menjadi tidak bijak dalam memandang secara
obyektif Realitas kebenaran dibalik fenomena kenyataan yang ada. Corona yang
hadir sebagai media pembelajaran kehidupan dipandang sebagai teror yang
mencemaskan tampaknya cukup mampu merobek topeng semu dari kebodohan naif dan
pembodohan liar kita selama ini atas keberadaan penderitaan yang kita tutupi
dalm selimut kebahagiaan. Ada dukkha tersirat dalam drama kosmik samsara ini
... perlu panna kebijaksanaan bukan hanya untuk menghadapi namun melampauinya
mungkin itu makna tersirat dibalik senyum holistik sita hasitupada rupang
kebuddhaan atas kesedemikian homeostatis dari delusi living kosmos mandala
advaita ini. Walau dalam label eksistensial saya sesungguhnya bukanlah Buddhist
(atribut keberadaan lahir /hadir eksistensial yang digariskan kehidupan saat
ini) namun saya harus mengakui sangat interest pada Buddhisme. Ada keunikan
yang menarik dari arus Uncommon Wisdom pandanganNya sebagai Dhamma Kosmik yang tidak
mudah menyatakannya sebagai agama biasa tidak juga bahkan mistik esoteris.
Buddha
menyatakan kehidupan ini tidak pasti namun kematian ini pasti namun sayangnya
kita manusia sebagian besar tak tercerahkan dan menjadikan alam apaya seakan
rumah baginya (semakin terjebak dalam keterlelapan mimpi chaotik samsara bukan
nibbana keterjagaan sebagai ariya sebagaimana seharusnya) dikarenakan notion
pandangan, frekuensi kecenderungan dan konsekuensi tindakannya. Keberadaan
sebagai manusia di mayapada dunia ini memang tidaklah seindah surga Devata
kamavacara atau semulia jhana moksha para Brahma, namun demikian walaupun
tidaklah sekondusif wilayah antara suddhavasa tetapi keberadaan mediocre ini
justru bisa menjadi effektif bagi pertumbuhan dan perkembangan spiritualitasnya
jika cukup reseptif menghayati, menjalani dan melampauinya secara benar , sehat
dan tepat … tidak hanyut dalam arus eksistensi namun tidak juga teralienasi..
Well, mungkin inilah
saatnya bagi kami untuk berbagi bukan lagi sebagai "persona"
sebagaimana figur yang seharusnya diperankan (sebagai seorang manusia yang
lahir dan hadir di dunia ini dengan segala atribut eksistensial yang ada) namun
sebagai sesama zenka "seeker" yang terbang menjelajahi cakrawala
pengetahuan keabadian dalam kehidupan ini dengan dua sayap paradoks keterbukaan
dan keterjagaan atas dualisme kenyataan menjaga keberimbangan, menjalani
keswadikaan dan menggapai kebijaksanaan sebagaimana harusnya ….Sayang sekali
walau mungkin cukup sarat akan wawasan pengetahuan namun sangat minim dalam
penempuhan sehingga tiada layak dalam tataran penembusan yang seharusnya bisa
dicapai. Ini tidak hanya membuat kami risih namun juga riskan. Apalagi bahasan
spiritulitas ini tentunya akan menyerempet (melanggar ?) masalah yang bukan
hanya sangat krusial namun juga sangat sensitive bukan hanya bagi para Neyya
Buddhist namun juga umat agama lain termasuk (terutama?) saudara muslim kami.
Disamping kami harus menjaga logika, bahasa dan etika dalam penyampaiannya
tampak sangat perlu moderasi keterbukaan pengertian untuk tidak salah faham
akan orientasi niatan kami dan juga sikap kritis keterjagaan penalaran anda
semua jika memang ada kesalahan pandangan yang kami ajukan. Ini hanyalah
kontribusi pandangan untuk memperluas pandangan kita dengan tanpa maksud sama
sekali untuk meng-konversi diri sendiri ataupun orang lainnya ke suatu ajaran
tertentu namun sekedar masukan wawasan untuk kembali mentriangulasikan
paradigma cara pandang kita bukan hanya dalam kehidupan duniawi ini dengan
segala problematika figure eksistensial kita yang multi peran namun juga demi
keberlanjutan kita mensiagakan diri dengan segala keberdayaan yang diperlukan
untuk menghadapi segala dilematika kemungkinan yang ada (bahkan jika itupun
ternyata berbeda sama sekali dengan yang telah kita yakini dan persiapkan selama
ini). Pada intinya nanti walau dalam leveling pemilahan memang perlu adanya
kebaikan untuk melayakkan taraqqi yang lebih baik namun dalam labeling tidak
ada yang perlu merasa direndahkan/ ditinggikan karena memang demikianlah desain
keberadaan kasunyatan ini memang harusnya/nyatanya tergelar. Segalanya terlingkup
sebagai aneka dvaita pelangi kenyataan dari cahaya advaita mentari kebenaran
dalam living kosmos kesemestaan homeostatis tunggal yang sama … amala, avimala
(prajna paramita hrdaya sutra).
Tanpa
maksud mengeluh ... virus ternyata tidak menyerang dan menyusahkan kita manusia
(seperti corona ini ). Kemarin malam komputer inipun terserang virus eksternal
ransomware npsk dari internet (sejumlah data file terinfeksi dan terbungkus
ekstensi tambahan npsk termasuk image ghost systemnya) ... seharian (tentu saja
setelah presensi dan disela kegiatan lainnya) setelah tampaknya belum bisa
mengatasinya, reinstalisasi standar terpaksa saya lakukan ... Syukurlah malam
ini bisa fresh lagi. Sepanjang hari dalam kesempatan tersebut saya kembali
memikirkan data tersebut. Mungkin ada baiknya tidak sekedar tersimpan di hard
disk internal komputer atau flash disk dan hard disk eksternal yang tersisa
(tinggal 2 flash disk dan 1 HDD eksternal kecil dari banyak yang rusak tidak detect
terbaca data pekerjaan, selingan dan penjelajahan untuk diselamatkan). Cloud
internet mungkin adalah alternatifnya. Google Drive dan Cloud lainnya bisa
digunakan sebagai media penyimpanan , sementara Blog dan Vlog bisa menjadi
media penyampaian. Well, jangan irrasional ... sesungguhnya baik buruknya kita
tidak ditentukan sebagaimana baik buruknya dunia (peristiwa kehidupan atau
orang lain) perlakukan kepada kita, tetapi sebagaimana baik buruknya kita
memperlakukan dunia (peristiwa kehidupan atau orang lain). Atthika Kamma. Walaupun
tetap prihatin dengan perlakuan/kelakuan dari kejadian tersebut namun terima
kasih kepada Niyama Dhamma yang telah menjadikan ini sebagai media kesabaran
dan kesadaran berikutnya. Kita hanya layak mendapatkan apa yang kita berikan.
Berkah potensi tersebut memang haruslah dilayakkan tidak mungkin hanya sekedar diharapkan.
Dan untuk itulah saya merasa perlu berbagi (kebajikan akan kebijakan,kebijakan
untuk kebajikan). Bukan dengan mengharapkan untuk kepamrihan balasan
(yang potentially sudah pasti) namun demi meniscayakan keniscayaan (yang
selayaknya terjadi).
Posting ini semula
saya rencanakan untuk isi waktu luang dengan kegiatan bermanfaat hingga
berakhirnya kebijaksanaan distansi sosial korona yang diberlakukan pemerintah,
kedinasan dan lingkungan masyarakat. satu posting dalam satu minggu mungkin
sudah cukup. Namun tampaknya dikarenakan ribet dan sulitnya mengkomunikasikan
mungkin harus dimoderasi untuk durasi yang lebih lama. Plus data penjelajahan
bisa kami reload bagi yang membutuhkan. Mungkin harus tiga posting ... untuk
artikel ini, untuk upload karya diri dan reload karya sesama .... (cloud drive
untuk penyimpanan dan link penyampaian harus dibuat dulu). Baiklah secara
simultan 3 (tiga) hal ini harus dilakukan.
Tampaknya posting ini menyimpang dari agenda semula. Rencana awal sesungguhnya untuk memilah & memilih wacana kutipan untuk posting berikutnya. Namun nggak nyangka sudah terlalu banyak posting kami selama ini (ternyata sudah hampir satu tahun pandemi corona ini berlangsung, ya ?).... malah capek & ribet jadinya.
Blog Just Share dibuat sebenarnya bukan sekedar kami perlu blog baru yang lebih fresh ataupun hanya untuk nyelamur/ ngabur untuk posting yang lebih mendasar & menyasar namun agak sungkan/ riskan untuk diutarakan ke khalayak awam kebanyakan .... well, katakanlah ini khusus bagi para seeker yang cukup dewasa, cerdas & bijaksana dalam mencerna tanpa naif menyela apalagi liar mencela untuk paradigma pandangan yang baru & beda. Jika tidak demikian maka sesungguhnya bukan hanya menyusahkan kita (pada saat ini) namun juga dirinya sendiri bahkan lainnya juga kelak. Ini mungkin (dipandang) tidak berguna atau bahaya? bagi lainnya (untuk tujuan pembenaran kepentingan keakuan & kemauan walau mungkin dalam keterpedayaan diri sendiri bahkan malah memperdayakan lainnya juga?) namun bisa jadi akan bukan hanya memang berguna namun juga tidak perlu tercela bagi para seeker (dalam niatan pemberdayaan kesejatian jikapun belum dalam tataran realisasi evolutif pencapaian minimal dalam wawasan orientasi berpandangan) untuk saling berbagi.
Well,
memang walau ada kebebasan baik secara individual maupun kolektif dalam
kehidupan ini namun senantiasa perlu ada batasan untuk tidak juga melanggar
kebebasan individual/kolektif lainnya dalam keseluruhan. Setiap keberadaan
berhak hidup dan hadir dalam keunikannya masing-masing. Kami juga tidak tahu
apakah bijak, tepat dan benar jika kami juga mengungkapkan paradigma hipothesis
pribadi yang pernah tersketsakan puluhan tahun lalu karena bisa jadi ini justru
akan menjadi kontroversi yang kontraproduktif jika disampaikan ke publik
dikarenakan ini mungkin akan menjadi imaginasi paling 'gila' tentang bentangan yang
mungkin bisa dicapai (tepatnya dibayangkan) manusia berdasarkan update
referensi yang ada. Meminjam istilah Mistisi Ibn Araby ('biar hati ini menjadi
makam bagi rahasia-rahasia')., mungkin akan menjadi nyaman juga bagi diri
sendiri dan keseluruhan jika kemudian kami senantiasa menundanya dan
menguburnya kembali dan berkata dalam hati biarkan logika pemikiran ini tetap
tersimpan aman di tempatnya karena memang tidak harus, perlu dan patut untuk
diungkapkan ke permukaan.
Kutipan:
Jalaludin Rumi : tentang hikmah (Dilema Faqir) =
Janganlah kamu berlaku zalim dengan tidak memberi kepada orang yang berhak menerimanya.
namun janganlah kamu berlaku fasik dengan memberi kepada orang yang belum layak menerimanya.
Well, Ini blog/ vlog kami selama ini ..
Penambahan Vlog : Teguh Kiyatno https://www.youtube.com/user/04021965teguh
Penambahan Vlog : English
Indonesian https://www.youtube.com/channel/UCoyZ6llUIUekhkNZInq7npg
Kemudian kembali lagi: http://teguhqi.blogspot.com/ : 28-07-2020 SD
31-12-2020 (aslinya s/d 17-01-2021)
Dilanjutkan : http://kalamadharma.blogspot.com/: 17-01-2021 SD
08-01-2021 (meneruskan Just for Seeker - episodes)
Dilanjutkan : https://justshare2021.blogspot.com/ : 09-01-2021
SD …..(menuntaskan Just for Seeker - terakhir)
Penambahan Vlog : Dhamma Seeker https://www.youtube.com/channel/UCbvmNk761y4BIkqocr-V7_A
Sebelum ke posting berikut, apa perlu upload resume arsip sebelumnya ?
Rasanya sudah cukup tertib & banyak data arsip kami selama ini.
JUST SHARE REHAT 01022021
DATA 01022021 by BLOG
Data sebelumnya yang relatif lebih lengkap (referensi document pendukungnya) ... besar ?
PLUS ARSIP 12012021
Plus
BLOG 17012021 OK
Hidden Documents (hide file) : Ini juga ada di atas sebetulnya.... rencana semula sih : just private for next figure, hehehe ...
Dengan adanya input baru , data lama masih harus direvisi lagi untuk sinkronisasi paradigma kelanjutan yang lebih benar, bajik & bijak .(trial error ... typical seeker, guys). ... istilah judi petaruh, main selon ... puputan sekalian, habis-habisan ... tanpa sisa ?
BLOG 17012021 OK/PLUS/TQ |
2021-01-17 22:52 |
||
2020-10-05 22:04 |
95205 |
||
2020-10-05 22:04 |
379636 |
||
2021-01-17 21:39 |
33042 |
||
2021-01-17 21:39 |
196619 |
||
2021-01-17 22:51 |
65255 |
||
2021-01-17 22:51 |
430203 |
LANJUT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar